Zakie The Zakies

Selain sebagai awak utama The Zakies, ternyata Zakie punya pekerjaan lain. Dia juga menjadi produser bagi band-nya senidri dan band-band lain. Ya, talenta pemuda kelahiran Palembang ini tidak hanya sebagai musisi, Zakie juga mampu di belakang layar industri musik.

Banyak yang sudah mengenal Zakies, karean dia pada awalnya adalah vokalis Kapten band, sebuah band jebolan Dreamband tahun 2004. Pada akhirnya, band itu dirtinggalkan dan kini Zakie membentuk band sendiri dengan nama The Zakies. Bahkan dari The Zakie, kemudian ia dipercaya menjadi kapten dari beberapa band yang berada di bawah naungannya sebagai produser, antara lain LVT, Olif, The Zakies, Casual, Pretty Woman, dan Play, yang tergabung denga Nagaswara. Dan di luar itu masih ada Salju dan Toya band yang ia kelola di label tetangga.

Kendati baru mulai tahun 2008 menjadi produser, Zakie banyak belajar tentang musik dan industri yang tidak terpisahkan. Tahun ini, menurutnya, dia merasa lebih menjadi apa yang dia inginkan, yakni sebagai produser. “Sebenarnya ini bukan pekerjaan aku bener, aku ini masih di depan layar, dan nge-band. Tapi syukurlah, aku banyak menggali ilmu dari Pak Rayahu,” ungkap pemilik nama asli Ahmad Zakie, kelahiran Palembang 1981 ini.

Sebagai produser, Zakie lebih mengarahkan ke industrinya. Sedangkan kalau bertindak sebagai produser total, tentu tidak. Setiap band yang ia produseri, semuanya bernaung di bawah Times Managemen Bandung.

Zakie sendiri mengawali karir di Dreamband 2004, lalu bergabung dengan Kapten tahun 2006. Pada tahun 2008 ia mendirikan The Zakies hingga sekarang. Kini, reality-nya ada 8 band yang dipegang. “Aku meniti karir juga akan lari ke situ, secara tidak langsung aku dapat support dari Pak Rahayu. Ayo munculkan teman-teman band kamu yang lain, begitu dukungan beliau,“ jelas Zakie.

Secara tehnis, Zakie cuma membawa masternya aja ke label. Kerjasama begitu, menurutnya, sangat nyaman dijalani. Apalagi, keinginan Rahayu Kertawiguna dan Zakie terkadang klop. “Pak Rahayu request apa, kebetulan teman-teman ada yang punya demonya. Untungnya, tidak ada kendala, jadi nggak ribet. Aku tidak cari band yang mentah. Tetapi yang sudah punya master, tinggal comot aja,” tuturnya.

Pertama kali menjadi produser, awalnya agak canggung. Tapi syukurlah, The Zakies yang menjadi proyek pertama yang ia pegang dan perankan bisa berjalan baik. Dari situlah ada beberapa label yang menawarkan kerja sama. Selama menjadi produser bagi band lain, sebenarnya menurut Zakie tergantung profesionalisme yang ada. Sampai saat ini, lancar-lancar saja, walau memegang 8 band. “Aku benar-benar melihat karakter masing masing band yang kuat. Sebelum aku pilih bandnya aku konsultasi dulu ke label. Jadi aku tidak sembarangan comot” terangnya.

Zakie akui memang sejauh ini kerjasama dengan Nagaswara terasa nyaman, tidak seribet label lain. “Kadang, kenapa aku jadi produser kalau masih ditekan sana-sini dalam memproses sebuah album? Kalau di Nagaswara aku tidak menemui yang seperti itu,” ungkapnya.

Mungkin, semua orang label sama, yakni mengejar kesempurnaan industri. Tapi di sini Zakies dengan Pak Rahayu lebih banyak sharing dan memang bicara lebih kepada industri tanpa dicampuri pernak-pernik kecil yang sebenarnya belum tentu perlu. Ini masternya, marketnya seperti ini, celah industrinya begini, dan sebagainya.

Memproduseri Istri Sendiri
Zakie bertemu sang istri juga di dunia musik, tepatnya tahun 2007. sang istri, Veron Olif mempunyai album yang dilabeli oleh Aquarius, namun sayangnya tidak jalan. Setelah sempat vakum, Olif kemudian terjun lagi ke dunia musik. “Sempat vakum, tapi yang namanya musisi dan sudah pernah terjun ke industri akhirnya kangen juga. Saya support dia untuk bikin album dengan Nagaswara,” katanya.

Walau baru akan meluncurkan single, namun proses album tetap berjalan. Menurut Zakie, deal-nya adalah deal album. Bagi Zakie, memproduseri sang istri sebenarnya memang gimmick. Sebab karakter vokalnya blues, tapi diolah agar bisa masuk ke industri. “Jadi lagunya Olif kali ini adalah “Mencoba Melayu”, yang mana liriknya adalah semua judul lagu band Melayu yang pernah booming, dijadikan jalan cerita. Akhirnya ketemu titiknya. Ini lebih mencari gimmick. Nggak peduli band ini seperti apa dulu,” kata Zakie..

Meski dirinya produser, Zakie tidak pernah bikin lagu atau merubah vokalitas lirik band-band yang diproduserinya. “Hampir semua band tidak aku gangguin lirik segala macam. Aku harus tetap profesional juga. Aku juga nggak membedakan. Kerja industri begini harus ada aturannya,” ujar Zakie.. Kim Sadewa

About nagaswara

NAGASWARA LABEL, PUBLISHING,ARTIST MANAGEMENT, RADIO TEMEN, MAGAZINE, NSTV, PICTURES, CAFE & RESTO. All about NAGASWARA Business & News Update ...
This entry was posted in Info and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s